“Kartu vaksin di sangat mereportkan. Orang yang tidak divaksinasi akan sampai pada titik, ‘sialan, aku akan mengambil vaksin.’ Sebab orang yang tidak divaksinasi dibatasi untuk melakukan apa pun. Dan orang yang divaksinasi diizinkan melakukan apa pun yang mereka inginkan,” beber Karl.
Klip lainnya memperlihatkan penuturan Croce soal efektivitas antibodi yang dihasilkan dari vaksin. Menurut dia, di tengah lonjakan infeksi akibat varian Delta yang lebih menular dan berbahaya, sebenarnya kenaikan penularan disebabkan oleh efektivitas vaksin yang berkurang.
“Bukan karena variannya, kebanyakan karena imun. Pada dasarnya antibodi mereka berkurang. Jadi mereka tidak memiliki khasiat 95 persen, lebih seperti 70 persen. Jadi (kalau tidak terserang virus corona), Anda sebenarnya sedang dilindungi oleh respons alami,” beber dia.
“Kami diajarkan untuk mengampanyekan ‘vaksin lebih aman daripada benar-benar terkena COVID’. Kami harus melakukan begitu banyak seminar tentang ini,” ujarnya.
“Kami harus duduk di sana selama berjam-jam, mendengarkan ‘kamu tidak boleh membicarakan ini dan itu di depan umum’,” ungkap Khandke soal upaya perusahaan supaya banyak orang yang semakin ingin divaksinasi.
Menurut Croce, penerapan sertifikat vaksin merupakan strategi pemerintah, yang tentunya menguntungkan perusahaan, agar semua orang mengambil vaksin. Dia juga meyebut bahwa perusahaannya meraup keuntungan hingga 15 miliar dolar AS tahun lalu (Rp214 triliun).









