Maka UEA dan Bahrain rajin mengutuk Israel di sidang-sidang PBB, sambil mengimpor teknologi keamanan Israel di belakang panggung. Seperti kata seorang diplomat lama UEA: “Kami tidak mampu melawan Iran sendirian. Tapi bersama Israel, kami punya peluang menang.”
Mesir dan Yordania: Jalan Selamat Status Quo
Mesir dan Yordania punya perjanjian damai dengan Israel. Ini memang sesuai instruksi Washington, yang sejak puluhan tahun lalu menyuap keduanya dengan miliaran dolar per tahun; jumlah yang sangat berarti bagi kedua negara Arab yang tak punya minyak itu (“dana suap” Amerika tetap jauh lebih besar kepada Israel).
Tapi mereka tahu betul bahwa api Timur Tengah bisa menyambar siapa saja. Mereka menjaga hubungan formal dengan Israel, sembari tetap mengecam jika konflik memanas. Rakyat mereka tetap bersimpati pada Palestina dan anti-Zionis — terutama Yordania, rumah bagi sekitar 6 juta penduduk berdarah Palestina, dari 10 juta rakyatnya.
Mereka adalah negara-negara penyeimbang. Mereka tak cukup kuat untuk memimpin, tapi cukup penting untuk meredam. Mereka benteng status quo — penjaga selingan ketenteraman yang tidak ideal.
Suriah dan Lebanon: Panggung yang Harus Ikut Menari
Suriah telah menjadi markas milisi pro-Iran dan wilayah transit senjata Hizbullah. Setiap minggu, jet Israel membombardir pinggiran Damaskus, meski rezim di sana telah berganti dari penguasa Syiah ke pemimpin Sunni (sesuai sekte yang dianut mayoritas rakyatnya). Lebanon, lewat Hizbullah, siap menyalakan front utara jika Iran diserang.








