Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perang akan pecah, melainkan jika pecah perang besar, siapa berdiri di barisan mana?
Amerika: Loyalitas dan Kalkulasi
Sejak lama AS dikenal sebagai pelindung utama Israel karena sejumlah kalkulasi. Termasuk berkat lobi Israel yang sangat kuat dan efektif (yang secara “resmi” dimulai pada awal 1960an, di masa Presiden Kennedy).
Seperti kata Joe Biden dalam pidatonya di Gedung Putih April tahun lalu, “Komitmen kami pada keamanan Israel adalah kunci mati, ironclad.” Tetapi “ironclad” tak berarti tanpa syarat. Ketika Israel berencana meluncurkan serangan balasan besar terhadap Iran, Washington menekan Tel Aviv agar “menahan diri demi stabilitas kawasan”—menurut bocoran dari New York Times dan Haaretz.
AS khawatir perang penuh akan menaikkan harga minyak, menyeret pangkalan militernya di Irak-Suriah dalam serangan, dan memperumit hubungannya dengan negara-negara Teluk.
Maka Amerika memainkan dua peran ganda: pemasok amunisi dan pemadam kebakaran. Ambiguitas yang ironis ini tak asing dalam kebijakan luar negeri Amerika.
Hari ini pun hal itu terjadi. Presiden Trump mengancam Iran: jika ia menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika di Baghdad, Qatar dll., maka Iran akan mendapat balasan yang tak terbayangkan mengerikannya. Tapi Trump juga menekan Israel agar membatalkan rencananya menghabisi Ali Khamenei.









