Oleh: Hamid Basyaib, Aktivis dan Mantan Wartawan
Jika saling serang antara Israel dan Iran mencapai titik eskalasi tertinggi dan pecah sebagai perang terbuka, apa yang akan terjadi di panggung Timur Tengah?
Perang ini bukan sekadar duel dua negara yang bermusuhan. Ia akan menjadi gempa geopolitik yang getarannya akan terasa dari Tel Aviv hingga Teheran, dari Riyadh hingga Beirut, dari Damaskus hingga, tentu saja, Washington.
Ini bukan semata soal siapa duluan menyerang siapa, tapi soal siapa yang akan menentukan wajah Timur Tengah di masa depan.
Dalam dua dekade terakhir, konflik ini telah berlangsung dalam bentuk “perang bayangan.” Atau dalam bentuk perang verbal, saling menggertak dan saling mengancam, dengan melibatkan Amerika, meski terkadang masih dibungkus dengan berbagai sindiran diplomatis.
Tapi pada 2010, terjadi sabotase siber serius terhadap pusat nuklir Natanz, berupa pelumpuhan sistem komputer reaktor itu oleh virus Stuxnet, seperti direkam dengan sangat baik oleh film dokumenter karya Alex Gibney (“Zero Days”, 2016). Ada indikasi kuat penyusupan Stuxnet merupakan hasil kerja sama Israel dan Amerika.
Berikutnya terjadi pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, yang menurut banyak laporan melibatkan Mossad. Lalu, dalam serangan drone Israel atas konsulat Iran di Damaskus pada April 2024, tewas dua brigadir jenderal Pasukan Quds (satuan terpenting dalam struktur Pengawal Revolusi).









