Perang Iran-Israel: Siapa Yang Akan Menang?

oleh -1 Dilihat

Arab Saudi: Tak Mau Terbakar

Sebagai “kiblat Sunni”, Arab Saudi adalah rival utama Iran, “kiblat Syiah” di dunia Islam. Persaingan Sunni-Syiah, konflik proksi di Yaman, dan pertarungan pengaruh di Suriah dan Lebanon membuat Riyadh dan Teheran selalu saling waspada.

Apalagi Iran tampak tak pernah kendor dalam menggenggam doktrin Imam Khomeini tentang “ekspor revolusi” — meski dengan retorik yang tak segamblang di masa eforia pasca sukses revolusi 1979. Namun sejak kesepakatan normalisasi yang ditengahi Cina pada 2023, hubungan mereka terlihat membaik secara diplomatis.

Perbaikan hubungan di permukaan itu tak akan membuat Saudi membantu Iran, tapi ia juga tak akan membuka wilayah udaranya untuk jet Israel. Saudi ingin Iran dipukul, tapi bukan sampai hancur. Posisi Riyadh: menunggu siapa yang lebih dulu kelelahan, sebelum melancarkan manuver-manuver diplomatik.

UEA dan Bahrain: Realpolitik dan Retorika

Baca Juga  Sempat Kabur ke Maros, Tersangka Dugaan Ujaran Kebencian Tiba di Ambon, Dikawal Penyidik Polres KKT

Uni Emirat Arab dan Bahrain telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords, 2020. Para elit Teluk tahu bahwa ancaman nyata bagi mereka bukanlah Israel, melainkan Iran. Tapi di hadapan publik Arab, mereka tetap harus menjaga retorika.

Sebab siapapun paham: rakyat negara-negara Arab konstan bersimpati pada nestapa bangsa Palestina; hanya para elit mereka yang suntuk “berpolitik”— ambiguitas inilah yang dulu dengan cerdik dimainkan oleh Yasser Arafat, dan tampak kurang terampil dimanfaatkan oleh para pemimpin lain Palestina.

No More Posts Available.

No more pages to load.