Oleh: Hasby Yusuf, Bakal Calon Anggota DPD RI dapil Maluku Utara
Amartya Sen, seorang ekonom peraih Nobel, dalam salah satu studinya di China menulis bahwa salah satu sebab peristiwa kelaparan besar di China adalah tertutupnya informasi. Sen ingin mengatakan bahwa Pers yang tidak bebas akan menghadirkan tragedi bagi kemanusiaan.
Dalam tragedi dunia yang lain, Pers dijadikan alat agitasi oleh negara superpower (Amerika dan Barat) untuk membangun opini dunia yang sesuai dengan hasrat politik Barat. Kebrutalan Amerika dan Sekutu Barat atas Irak, Afganistan, Libya dan tragedi perang di banyak belahan dunia didahului dengan penciptaan opini media yang dimiliki oleh kekuatan global barat sebagai dalih dan justifikasi perang dan kebrutalan oleh Amerika dan Sekutu Barat atas negara yang dianggap bersebrangan dengan kepentingan global mereka.
Bahkan dalam kasus Indonesia, otoritarianisme kekuasaan orde baru diawali oleh diberangusnya kebebasan Pers. Sebagaimana kekuatan kritis lainnya, Pers dianggap sebagai musuh nyata pemerintah berkuasa yang ingin melanggengkan kekuasaannya. Dengan melemahkan Pers maka pemerintah berkuasa bisa mengendalikan dan mendikte opini publik yang disesuaikan dengan tujuan politik rezim orde baru saat itu.









