Endra menatap dalam mata Clara. “Iya kalau aku masih sayang mantan aku kenapa? Kalau aku belum bisa lupain mantan aku kenapa? Kamu yang jadiin semuanya ini rumit. Sekarang maunya putus kan? Oke aku turutin maumu. Kita resmi putus.”
Endra langsung berdiri, dan meninggalkan Clara sendiri di kafe.
Tak disadari air mata Clara jatuh membasahi pipi. Ia menatap punggung Endra dari jendela hingga menghilang. Dada perempuan itu naik turun, rasanya tidak tenang.
“Kenapa gue yang sedih? Harusnya gue bahagia karena udah lepas dari rasa sakit itu.” Clara mengusap air matanya kasar, lalu menarik slingbagnya untuk keluar kafe.
Selang dua hari, Endra dan Clara sering bertemu, namun mereka tak saling sapa. Hanya mata mereka yang menebarkan berbagai kerinduan. Endra sekarang lebih fokus dengan kerja dan kuliahnya, sedangkan Clara sibuk menyusun tugas akhir.
“Lo jadi pendiem banget, Cla?” tiba tiba Jaka berceletuk sembari duduk sebelah kursi kantin Clara.
“Biasa aja gak sih?”
“Lo sendiri terus sekarang. Udah gak sama Endra emang?” Jaka memakan baksonya yang ia pesan. Ia melihat Clara menyerumput es teh dengan raut bingung.
“Ya gitu lah.” Clara itu perempuan tipe apa apa sendiri dan agak pendiem.
Jaka mengangguk angguk dan melanjutkan makanan.











