Lelaki Berdarah Mestizo

oleh -327 views

Cerpen Karya: Andria Septy

Sore itu suasana amatlah lengang. Orang-orang Quimica sibuk bekerja di sawah dan ladang. Terik matahari pukul tiga begitu membakar kulit. Lelaki berdarah Mestizo itu menendang sebuah bola usang di pekarangan bangunan tak berpenghuni. Bolanya bergulir ke samping pompa tua yang diberikan pemerintah daerah tertinggal dan perbatasan. Satu-satunya pompa guna menghidupi dusun Quimica supaya penduduk setempat leluasa menggunakan air bersih; tidak bergantung pada sungai Piko yang tercemar limbah pabrik kayu dan rumah tangga.

Nando begitu menyayangkan perkara ini dan tidak dapat berbuat banyak, selain daripada merutuk. Keluh kesah senantiasa lelaki bermata elang itu utarakan. Biasanya di kedai kecil di mana para kuli angkut pelabuhan menghabiskan waktu. Semacam berjudi dan minum kopi, sembari sesumbar membahas peristiwa terbaru di dusun Quimica.

Baca Juga  Pemkot Ambon Akan Laporkan Akun TikTok Penyebar Fitnah ke Polisi

Kembali tentang ide liar Nando. Ia betul-betul ingin memporakporandakan pompa tua itu dan berbuat onar. Supaya kelak dusun Quimica kembali menjadi sorotan. Berpuluh tahun silam, dusun sempatlah tersohor lantaran kasus pembunuhan. Pembunuhan sadis itu juga tak jauh-jauh dari sungai Piko. Seorang pegawai pelabuhan menemukan seonggok tubuh tanpa kepala membusuk, tak jauh dari kapal feri milik seorang syahbandar. Hampir dua bulan lamanya kapal feri mewah itu dibiarkan terombang-ambing beberapa meter dari pelabuhan. Spekulasi pun bertebaran bahwa mayat tersebut berhubungan dengan Syahbandar dan sang istri.

No More Posts Available.

No more pages to load.