“Sejak Januari sampai September, operasional kampus ditanggung UNPATTI tanpa satu rupiah dari hibah Pemda. Jadi sekarang tidak ada lagi uang untuk membiayai, honorer saja terancam diberhentikan,” ungkapnya.
Sikap DPRD Aru
Ketua DPRD Kepulauan Aru Fenny Loy menegaskan pihaknya sudah berulang kali memberi rekomendasi agar hibah segera diproses.
Namun, Bupati justru meminta DPRD membentuk pansus, tanpa solusi konkret menyelesaikan masalah mendesak.
“Pansus bisa saja dibuat, tapi yang paling penting menyelesaikan dulu persoalan hibah PSDKU maupun pembayaran utang ke perguruan tinggi lain yang sempat diprotes mahasiswa. Sudah beberapa kali RDP, tapi tidak ada jawaban pasti,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Aru Stefen Irmuply menilai semua bergantung pada keputusan Bupati. “Semua ini tergantung Timo (Bupati Aru) saja,” ujarnya singkat.
Mahasiswa Kecewa
Pantauan porostimur.com di lokasi, kampus terlihat sepi aktivitas. Ketiadaan listrik membuat perkuliahan, pelayanan administrasi, hingga praktikum terhenti. Internet, laboratorium, dan kegiatan organisasi kemahasiswaan juga terdampak.
Roberth, mahasiswa jurusan akuntansi, mengaku kecewa. “Saya dan teman-teman datang ke kampus hanya datang saja tanpa kuliah. Kalau kuliah online, katong harus beli pulsa data lagi atau cari wifi. Padahal kalau listrik menyala, katong bisa kuliah dengan baik. Katong ini juga masyarakat punya hak menikmati pendidikan yang layak,” keluhnya.









