Poliandri Sedang Trend di Kalangan PNS, Apa Penyebabnya?

oleh -101 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Saat ini sedang trend poliandri di kalangan PNS wanita atau PNS perempuan.

Masalah poliandri baru mengemuka setahun terakhir versi MenpanRB RI Tjahjo Kumolo.

Istilah poliandri dilekatkan pada perempuan atau wanita yang punya lebih satu suami.

Lawan poliandri adalah poligami atau pria yang punya lebih satu istri.

Link Banner

Setahun ini ada tren baru PNS wanita memiliki suami lebih dari satu atau poliandri. 

Sebenarnya, pemerintah telah mengatur perkawian yang dilakukan PNS dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) RI Tjahjo Kumolo mengatakan ada tren baru pada sejumlah aparatur sipil negara (ASN) atau PNS, yaitu poliandri.

Pihaknya mengaku telah mendapatkan sejumlah laporan mengenai adanya kasus tersebut pada sejumlah PNS.

“Sekarang yang menjadi tren baru adalah ASN wanita yang punya suami lebih dari satu.

Baca Juga  Polisi Bantu Bangun Rumah untuk Janda di Laala

Ini fenomena baru, saya banyak memutuskan perkara ini,” kata Tjahjo dikutip dari tribuntimur, Ahad (30/8/2020).

Tjaho mengatakan, selama satu tahun ini pihaknya telah menerima sekitar 5 laporan kasus poliandri ASN.

Meski demikian, pihaknya harus memutuskan masalah tersebut dengan beberapa pihak, yakni Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Kementerian Hukum dan HAM.

Biasanya poliandri terjadi jika perempuan tidak puas dengan pasangan lelakinya.

Berbeda dengan poligami, poliandri tidak memiliki dasar hukum sama sekali. 

Lalu bagaimana aturan poliandri di ASN?

Aturan UU No 1 tahun 1974

ASN tidak boleh melakukan poligami maupun poliandri.

Poligami adalah seorang laki-laki mempunyai istri lebih dari satu, sementara poliandri adalah perempuan memiliki suami lebih dari satu.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Hukum dan Kerja Sama Badan Kepegawaian Negara (BKN) Paryono menjelaskan, aturan poligami dan poliandri diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Baca Juga  Wijnaldum Antarkan Belanda ke Puncak Klasemen Group C

“Itu diatur dalam UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 3,” katanya pada Kompas.com (grup SURYA.co.id), Sabtu (29/8/2020).

Adapun bunyinya adalah, “Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri.

Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami.”

Paryono mengatakan untuk pria (poligami) ada penjabarannya, sedangkan untuk wanita tidak dijabarkan lebih lanjut.

Pada pria yang melakukan poligami disebutkan keharusan untuk mengajukan permohonan ke pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

Namun tidak disebutkan lebih lanjut mengenai poliandri.

Selain itu, PP No 10 tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil dan PP No 45 tahun 1990 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 juga merujuk pada undang-undang tersebut.

Baca Juga  Gelar demo, mahasiswa Unidar soroti ruas jalan Kebun Cengkeh-STAIN

Bagaimana sanksinya?

Paryono mengatakan bagi ASN yang melakukan poliandri bisa dijatuhi sanksi sesuai hasil BAP-nya.

Nantinya akan dilihat apa latar belakang, dampak dan sejauh mana peraturan perundangan yang dilanggar.

“Kalau merendahkan harkat dan martabat bisa salah satu hukdis (hukuman disiplin) berat, termasuk pemberhentian,” kata Paryono.

Pihaknya menjelaskan, penjatuhan disiplin menjadi kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi.

“Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang mendapat kewenangan untuk memberikan hukuman disiplin,” kata Paryono. (red/tribuntimur)