Prabowo Paradoks: Mengangkat atau Menjatuhkan Palestina?

oleh -531 views
Smith Alhadar

Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Presiden Prabowo Subianto adalah tokoh paradoksikal. Kebijakan-kebijakannya yang tidak koheren nyaris selalu melawan asas. Hari ini Prabowo sedang melawat ke lima negara Timur Tengah sebagai bagian dari upayanya merespons kebijakan tarif resiprokal AS di bawah Presiden Donald Trump.

Tarif resiprokal itu sebesar 32 persen guna menutup defisit AS sebesar 17 miliar dollar AS dalam perdagangannya dengan RI. Banyak negara merespons tarif Trump apple to apple. Artinya, mereka membatasi perang dagang dengan AS hanya pada ranah ekonomi. Mata dibalas mata atau sebaliknya.

Tapi Prabowo menjadikan Palestina sebagai instrumen transaksional dengan Trump. Prabowo menyatakan Indonesia akan membuka pintu bagi masuknya orang-orang Palestina di Gaza yang diusir Israel dengan dukungan Trump. Padahal, Mesir dan Yordania – dua negara yang sangat bergantung pada bantuan AS – yang menjadi sasaran awal relokasi warga Gaza menolak dengan tegas.

Sebagaimana diketahui, Trump ingin menjadikan Gaza sebagai Riviera of Middle East (pantai wisata air panas di Timteng) dengan mendepolitisasi enklave yang dihuni 2,3 juta warga.  Riviera of Middle East bukan untuk warga Palestina, melainkan warga Israel. Gagasan ini konsisten dengan cita-cita Zionisme melenyapkan Palestina sebagai bangsa sehingga two-state solution tak relevan.

No More Posts Available.

No more pages to load.