Ironi slogan anti-antek-asing
Sangat ironis melihat politikus yang saat kampanye Pilpres menyuarakan kemandirian bangsa, mengecam ketergantungan pada asing, dan meneriakkan ketidaksukaan pada “antek-antek asing”. Kini setelah menjadi presiden, Prabowo justru tunduk-terpuruk dalam kepentingan asing (Donald Trump-Netanyahu). Relasi transaksional berbasis-bully yang mahal. Dan, toh, ternyata tetap di-bully juga.
Trump dalam rapat perdana BOP memuji Prabowo setinggi langit, menggunakan gaya bahasa superlatif. Dengan senyum menyeringai (smirk) Trump menilai Prabowo sebagai pemimpin “tangguh” yang membuatnya enggan (ngeri) untuk “berhadap-hadapan”. Satu pujian palsu, lebay, kata GenZ.
Bukan cuma enggan berhadapan, Trump faktanya juga ogah berdampingan dengan Prabowo. Saat acara foto bersama para pemimpin negara anggota BOP, Prabowo ditaruh di ujung paling pinggir barisan para pemimpin negara. Presiden RI, negara terbesar keempat di dunia, dianggap hampir non-eksisten oleh Trump. Dalam protokoler diplomatik, kelaziman acara foto bersama kepala negara, pemimpin negara penting ditempatkan di tengah, di samping tuan rumah. Menaruh Prabowo di posisi paling pinggir, adalah satu pelecehan yang kurang ajar. Indonesia dianggap kurang penting oleh Donald Trump.









