WatchDoc

oleh -27 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Ramon Magsaysay Award tahun ini mengikutkan pemenang dari Indonesia. Dan, penerimanya mungkin tidak Anda duga. Ia adalah sebuah perusahan film dokumenter yang memakai film untuk memberikan penerangan dan kritik terhadap kekuasaan yang menyeleweng.

Saya masih ingat sehari setelah pemilihan presiden 2019. Saya berada di Lampung dan hape saya rusak. Keadaan itu memaksa saya untuk mampir di sebuah dealer merk Hape di Lampung. Tidak ada pembeli. Saya satu-satunya yang mampir ke toko itu.

Sementara, banyak sekali anak-anak muda yang menjadi karyawan toko itu. Mereka saling bercerita bagimana mereka memilih. Saya cuman mendengarkan saja.

“Eh kamu kemarin coblos siapa?” Ada yang mencoblos Jokowi, tidak sedikit pula yang mencoblos Prabowo. Tiba-tiba seorang anak perempuan disana bertanya, “Ada yang udah nonton Sexy Killers, nggak?”

Baca Juga  Pangdam Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Prajurit Pattimura

Ternyata ada yang sudah menonton. “Eh seru banget lo film-nya. Nggak nyangka kalau lingkungan kita rusak banget. Iya sih awalnya filmnya kelihatannya semi porno, gitu. Tapi setelah ditonton, ini film serius lo.”

“Mau dong nonton …”

Dan mereka mulai membuka hape, menonton film itu. Saya keluar makan. Sekembali saya, mereka masih menonton. Sekitar selusin remaja mengitari satu tablet.

Dari situ saya melihat sesuatu yang luar biasa. Suatu ekeperimen menggunakan media. Dan itu dilakukan dengan cerdas dan serius.

Tentu, ditengah iklim politik yang partisan, film ini juga mendapat hujatan. Kedua kubu capres tidak suka. Orang segera bertanya, siapa yang membeayai? Seakan hidup di dunia ini hanya selesai dengan uang belaka.

Baca Juga  Antisipasi Gempa-Tsunami Warga Hulung Perbaiki Akses Jalan

Ketika itu, film Sexy Killer sudah ditonton 20 juta kali di Youtube. Mungkin tidak cukup untuk menggerakkan hasil pemilu. Mungkin orang tetap memilih berdasarkan apa yang mereka yakini atau mengikut pimpinan komunitas atau ikut anjuran pemuka agamanya.

Tapi saya melihat dunia yang lain. Bahwa film ini ditonton lusinan remaja kelas bawah, yang harus bekerja menjadi pelayan toko di usia belasan, ini adalah investasi yang luar biasa untuk bangsa ini.

Hasilnya tidak akan terlihat sekarang. Ia akan berbuah kemudian. Ia paling tidak akan menjadi cara pandang generasi berikut. Bukan generasi dekaden dan bangkrut yang sedang berkuasa sekarang ini.

Tepat sekali kalau WatchDoc mendapat hadiah dalam kategori “Emergent Leadership.” Paling tidak, WatchDoc akan menjadi suara lain dari suara dominan yang sekarang makin terasa sumbang (Masih ingat bahwa koruptor adalah penyintas?)

Baca Juga  Kenang Jasa Para Pahlawan, Danlantamal IX Hadiri Upacara Hari Pahlawan Nasional Martha Cristina Tiahahu Ke - 202

Selamat untuk Mas Dandhy dan Mas Panca. Paling tidak, ini satu awalan yang baik. Sekaligus juga perlindungan untuk tidak diperlakukan semena-mena. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.