Problematik Relasi-Bully Donald Trump-Prabowo

oleh -837 views

Namun, Prabowo sepertinya tidak peduli, atau tidak memahami, nuansa sinyal protokoler diplomatik itu. Menerima “pujian” senyum seringai Trump, dianggap sudah cukup memadai. Nalar sehat mustinya mewaspadai, pujian tukang bully biasanya cuma sarkasme. Yang jelas saat di Washington DC, usai menghadiri rapat BOP dan menandatangani kesepakatan ART dengan Trump, Prabowo justru menyatakan “ingin melihat kehadiran Amerika yang kuat di Indonesia”.

Bulan madu telah berlalu

Prabowo selama lebih dari setahun sebagai presiden sangat sibuk menghadiri berbagai forum internasional. Hampir tiap bulan jalan-jalan ke luar negeri. Sementara di dalam negeri, ia semakin menjadi bulan-bulanan kritisisme publik. “Bulan madu” publik dengan Prabowo, sebagai presiden baru, terlalu cepat berlalu.

Baca Juga  FTJ 2026 Resmi Dibuka, Dodinga Dicanangkan sebagai Kampung Wallace

Prabowo agaknya telah lupa dengan buku yang ditulisnya, saat berkampanye ingin jadi presiden: “Paradoks Indonesia”. Ia perlu lebih fokus berada di Indonesia untuk berkonsentrasi mengawasi dan mengevaluasi kinerja para pembantunya. Indonesia sedang sakit parah, ia tahu diagnosa dan resep untuk mengobati. Tinggal keseriusan untuk menjalankan pengobatan, jika ingin konsisten dengan tema kampanye dalam buku yang pernah ia tulis.

Termasuk omon-omonnya yang kerap mempersoalkan antek-antek asing. Jika memang serius “anti antek asing”, setidaknya coba tunjukkan dengan contoh, untuk menolak menjadi antek Donald Trump — si tukang bully yang sedang menghitung hari.

No More Posts Available.

No more pages to load.