Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.
FILM “The Last Samurai” (2003) yang disutradarai Edward Zwick berkisah tentang Katsumoto (diperankan Ken Watanabe), samurai terakhir yang mencoba mempertahankan tradisi Jepang serta menolak modernisasi dan westernisasi. Katsumoto berjuang mempertahankan tradisi sampai titik darah penghabisan.
Di Indonesia, Megawati Soekarnoputri pun sedang mencoba berjuang mempertahankan tradisi. Dalam konteks Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, tradisi dimaksud adalah tradisi politik.
Megawati menggunakan putrinya, Puan Maharani, Ketua DPR RI yang juga Ketua DPP PDIP sebagai samurai terakhir untuk mempertahankan tradisi politik itu.
Lalu, tradisi politik semacam apa yang hendak dipertahankan Megawati? Ibarat Katana, pedang samurai yang dipegang putri Proklamator RI Soekarmo itu bermata dua. Satu mengarah ke dalam, satunya lagi mengarah keluar.
Ke dalam, yakni ke internal PDIP, Megawati ingin partainya itu konsisten dengan paham Marhaenisme ala Bung Karno yang dianutnya.
PDIP sebelumnya bernama PDI yang berdiri pada 10 Januari 1973. PDI merupakan reinkarnasi dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Bung Karno tahun 1927. Ideologi PNI adalah Marhaenisme.









