Puisi-Puisi Ida Azuz Sialana

PERAHU SABUT KELAPA

(Sajak untuk Perempuan TKW)

Seorang anak menghitung kerang di pasir pantai
Mengeja bulan keberangkatan ibunya

Seorang anak melayarkan sabut kelapa
Menitip lirih rindu pada ibunya

Seorang anak berbisik pada bantalnya
Telah kukirim perahu sabut kelapa tuk bunda
Agar cepat pulang mendinginkan demamku

Yogya, 22 Agustus 2009

=============

SAJAK PEREMPUAN PEMBANTU RUMAH TANGGA

Menjelang Buka Puasa,
Perempuan itu menaruh piring di meja bundar
Beragam aroma menembus hidung yang mengendus
Seisi rumah memuji perempuan itu
Karena pandai menanak yang disuka

Menjelang Isya,
Perempuan itu menyiapkan baju koko
Mengatur mukena agar pemiliknya tidak salah mematut
Seisi rumah mengagumi perempuan itu
Karena cekatan menyiapkan segala

Menjelang sahur,
Perempuan itu tergesa-gesa menembus malam
Memastikan semua di meja masih ngepul
Seisi rumah bersuka cita
Karena yang di meja sanggup mengusir kantuk

Menjelang subuh,
Perempuan itu menghapus keringat
Juga menyeka yang jatuh diujung penglihatan
Aku tak sempat menyapaMu bahkan di ujung witirpun
Karena kerja tak beri jeda,
Karena suami tak kunjung pulang dari rantau

Yogya, 23 Agustus 09

=======

TAGAL BETA ANA NEGERI

Tagal beta ana negeri..

Beta punggul upu Kapitan Pattimura pung bicara..

Tagal beta mahina hausihu..

Beta nanaku negeri Morella pung kapata..

Bahwa beta tolak sagala bentuk monopoli

Termasuk kas maso cuma sudara di kantor..

Bahwa beta lebe taat pada tita

Itu tar bisa tawar..

Oras ini, jang mara kalo beta musti ika unjung kabaya seraya angka palungku..

Tar pusing ale sapa..

Supaya tar malu jadi ana negeri..

 Ini beta pung cara inga para Upu..

15 Mei 2013

========

KITA SEMAKIN MENUA


Kupacu segenap keberanian yang pernah ada
untuk melihat mata berbalut alis tebal miliknya
betapa ingin menelusup sampai batas di sana
adakah ruang itu untukku

seperti yang kau ceritakan padaku
kita tak boleh sampai ke sana
kuiyakan segalanya dengan gelengan
karena kutahu, kita berdua tak mampu menolaknya

kita tak berani saling memandang
aku ragu, apakah takut tergambar jua kelemahan
ataukah kita semakin kukuh menantang aral
karena kutahu, dengan sekali lompatan kita mampu lakukan itu

lalu keberanian datang menyapa
dengan sekali tarikan nafas, kita saling memandang
aku tahu kita saling berebut mamahat asa,
tetapi aku pun tahu hanya kitalah yang boleh menguburkannya

di teluk Baguala yang dalam dan tenang
kitalah yang berbahagia
sambil senyum dengan mata yang mendanau
cukuplah sampai di sini saja

di teluk Baguala menjelang malam
kita memilih kole-kole* dan panggayong* masing-masing
seberangi teluk dengan jarak dan santun yang tetap terjaga
kuhormati dirimu lantaran engkau pun menjaga kehormatanku

seusai Isya, kukirim ucapan Natal untukmu
secepat nafas kuterima balasan
kuyakin kau masih di sana
seyakin usia kita yang semakin menua

Yogya, 19 November 2009

========


IDA AZUZ SIALANA

Perempuan kelahiran Ambon ini, sejak kecil telah mengapresiasi karya sastra dalam bentuk pembacaan puisi. Kegemaran membaca membawanya pada kesadaran bahwa menulis adalah aktivitas lanjutan setelah membaca. Catatan hariannya telah dibukukan pada tahun 2007. Kemudian bersama Asma Nadia menyumbangkan dua tulisannya dalam buku yang berbeda. Salah satu dari dua buku itu telah mengalami cetak ulang sebanyak empat kali hanya dalam satu tahun. Penggemar buku-buku tentang sosiologi budaya ini akhirnya menyadarkan dirinya bahwa bahasa daerah merupakan senjata paling ampuh untuk menegakkan identitas. Kesadaran itu kemudian diwujudkan dalam berbagai karyanya, sehingga hampir dalam setiap tulisannya, bahasa daerah (Morella) dan juga bahasa Ambon selalu ditampilkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: