Puisi-Puisi Rudi Fofid

oleh -421 views

Beta pejalan, hanya pejalan. Beta cium suara rampa-rampa ditiup dari terompet-terompet kerucut daun pisang. Male nusu rumah lalo’i e ne, laha ite kai ane kaboro. Kaboro yang isi rau’wi kura cinta

Beta pejalan, hanya pejalan. Beta buang kaki pelan-pelan, sangat pelan merayapi jalan kenangan bertabur wangi pala dan pule. Beta dilepaspisah oleh tarian rama-rama namalatu, disambut-terima seruling riang-riang wearing. Hormat beta pada tarian ama-ama, nyanyian ina-ina, sioh hatuhaha

Beta pejalan, hanya pejalan. di bawah jejer pohon cengkih. Beta rindu harum minyak atsiri tetapi beta percaya bau sejarah. Matasiri jauh lebih harum dari atsiri. Jangan biarkan harum itu ditelan angin

Beta pejalan, hanya pejalan. Di bawah jejer pohon kenanga, rinduku adalah harum minyak atsiri tetapi beta percaya bau kenangan. Sahapori lebih wangi dari atsiri. Jangan biarkan wangi itu dijilat arus

Beta pejalan, hanya pejalan. Antara namalatu dan waeriang, beberapa pohon jarak mulai tumbuh. Mereka membuat jalan penuh jarak. O, jangan! Jangan biarkan ada jarak di sepanjang jalan ini.

Baca Juga  Polisi Ciduk Dua Terduga Pelaku Penikaman Ketua Partai Golkar Malra Nus Kei

Beta pejalan, hanya pejalan. Daun-daun salam terus tumbuh serendah rumput, setinggi pohon, di seluruh pekarangan masjid. Siapakah tidak berbagi salam, di antara orang-orang salam?