Cerpen Karya: Laila Dwi Cahyanti

Pagi itu, mentari membangunkanku lebih cepat dari biasanya. Titik titik hujan semalam masih membekas membasahi jalanan. Aku membuka jendela kamarku, menatap keluar dan melihat ramainya pasar. Hari ini adalah hari minggu, aku tidak terburu buru mandi karena udaranya juga sangat dingin.

Aku terus menatap ke arah pasar, sesekali aku melihat sebuah rumah tua di dekat rumahku. Aku berpikir rumah itu sudah terlalu tua dan reot, tetapi masih ada yang meninggalinya.

Tidak berapa lama suara langkah kaki melangkah menuju kamarku, aku hanya pura pura tidak mendengar suara langkah kaki itu dan terus menatap keluar. Suara itu terus mendekat dan membuka pintu kamarku, ternyata itu adalah ibuku.

“Di.. kamu sudah bangun, itu di bawah ada tina.” ujar ibu sembari merapikan tempat tidurku. Tidak biasanya tina datang kesini, pagi pagi pula. pikirku dalam hati, aku terdiam sejenak dan berjalan menuruni tangga rumahku menuju ruang tamu. Disana aku melihat tina sudah duduk menungguku.

“Ada apa tin, tumben kesini?” tanyaku pada tina. Tina hanya diam, dan mengangguk. Mengisyaratkan agar aku duduk, “Aku ingin mengajakmu ke rumah sinta, dia sedang sakit…” ujar tina padaku. Tanpa berpikir panjang, aku meninggalkan tina sendiri. yang menandakan aku tidak mau, lagipula saat itu aku sedang marah pada sinta.

Aku berlari menuju kamar, dan mengunci pintu. Beberapa menit setelah itu aku melihat dari jendela, tina sudah pulang meninggalkan rumahku.

Tok… tok.. tok… suara ketukan pintu, “Di.. boleh ibu masuk?” ternyata itu ibuku akupun berjalan setengah berlari membuka pintu. Ibuku masuk lalu duduk di sampingku, “Kok kamu nggak ikut jenguk sinta, kamu marahan ya…?” tanya ibu padaku.

Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ibu, “Di… sinta itu kan temanmu, masalah dalam berteman itu hal wajar. Tapi jangan sampai kalian saling membenci…” ujar ibu menasehatiku.

Kring, kring, kring…. suara telepon berdering, ibuku meninggalkan kamarku dan mengangkat telepon.

Malam harinya, ibu mengatakan bahwa nenekku sakit. Dan ibu harus menjenguknya, tetapi ibu tidak tega meninggalkan aku di rumah sendirian.

“Bu… memang kapan ibu berangkat?” tanyaku pada ibu. Ibu yang terus terlihat cemas, tidak mendengar pertanyaanku. “Di… kamu di rumah bersama tina ya…” ujar ibu. Aku hanya mengangguk, lalu ibu menelepon ibu tina dan menyuruhnya mengantar tina.

Malam itu juga ibu berangkat menjenguk nenek, ditemani pak rudi supir pribadi kami. Setelah ibu berangkat, tinggal aku dan tina di rumah. Tina berbincang banyak hal mengenai sinta, “Di… sinta bilang dia minta maaf karena telah menuduhmu…” ujar tina padaku. Lagi lagi aku hanya terdiam, dan beranjak berdiri di dekat jendela, “maaf, memang mudah mengucapkan kata maaf. Tapi sulit untuku memaafkan tin… Meski aku ingin.” jawabku pada tina.

Tina berjalan mendekatiku, dan memelukku dengan erat. “Berusahalah, berusahalah memaafkanya, kasihan dia. Di hari hari terakhirnya ia hidup dengan rasa bersalah…” ujar tina padaku. “Apa maksudmu dengan hari hari terakhirnya?” tanyaku cemas. Tinapun menjelaskan bahwa sinta akan pindah rumah ke bandung, dan meninggalkan sekolahnya disini.

Mendengar hal itu, aku kaget sekaligus bersyukur. Kaget karena sinta akan pindah, dan bersyukur karena yang aku kira tidak benar.

Keesokan harinya, aku dan tina mengunjungi sinta. Sampai di gerbang rumahnya, aku melihat ada dua orang lelaki jangkung berpakaian hitam mengangkuti barang.

“Tin.. sinta akan pergi hari ini?” tanyaku pada tina, setelah berpikir sejenak tinapun angkat bicara “tidak, sinta bilang ia akan berpindah minggu depan. Tapi… kenapa…”. Aku dan tina pun memikirkan hal yang sama, kami berpikir itu perampok.

Tanpa berpikir panjang aku dan tina melaporkan hal itu pada satpam yang sedang berjaga, “pak… itu ada perampok ya?” tanya tina.


Satpam itu hanya diam, lalu melihat ke arah rumah sinta. “Heh… ngawur kalian, itu saudaranya yang punya rumah tau. Tadi soalnya saya sudah kesana” jawab satpam itu sedikit culas. “o.. maaf ya pak kami salah.” kataku menyela pembicaraan mereka. Aku dan tinapun pergi meninggalkan satpam itu, setelah sedikit jauh kami berhenti dan tertawa bersama karena salah mengira.

Aku dan tinapun masuk ke rumah sinta, sinta yang kala itu sedang duduk termenung langsung menghampiri kami. Sinta lalu memelukku dan mengucapkan maaf padaku, “Diandra, maaf ya… Kita masih berteman kan?” tanya sinta cemas. Mendengar hal itu aku kembali diam, dan pura pura tidak memaafkannya. Lalu sinta beranjak pergi menuju kamar, “Memangnya kenapa kami kemari kalau aku belum memaafkanmu…” kataku dengan suara yang lebih keras.
Sintapun berbalik dan berlari ke arahku dan tina, kami semua saling memeluk dan berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Sejak saat itu kami bertiga berjanji, akan lebih menjaga persahabatan yang kami jalin.

Beberapa hari setelah hari itu, sinta berangkat ke bandung. Aku dan tina merasa kesepian saat tidak ada sinta. Tapi kami bahagia karena setiap hari bisa meneleponnya. Karena bagi kami, satu hari tidak bertemu sama seperti satu minggu. Karena persahabatan kami, persahabatan yang kukuh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: