Berdasarkan informasi yang diketahui warga, fenomena serupa pertama kali muncul pada 1982. Pulau tersebut kemudian tenggelam, sebelum kembali muncul pada 1992 secara bertahap hingga membentuk gumpalan batu besar yang kini menjadi bagian permanen di kawasan tersebut.
Fenomena serupa kembali terjadi pada 2023, tetapi hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya tenggelam kembali.
Sementara kemunculan pada 2026 ini dinilai berbeda karena ukuran daratan yang terbentuk diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan kejadian sebelumnya.
“Jadi di tahun 1982, 1992, dan 2023 pernah muncul, namun kemudian hilang. Nah, di 2026 baru muncul pulau yang paling besar,” jelas Lukman.
Ia menegaskan, meskipun warga tidak panik, masyarakat tetap membutuhkan penjelasan ilmiah mengenai penyebab fenomena alam tersebut.
Warga Minta Pemkot Tual dan Tim Geologi Turun ke Lokasi
Atas kejadian itu, masyarakat meminta Pemerintah Kota Tual segera memfasilitasi tim geologi dan pihak terkait untuk melakukan penelitian langsung di lokasi.
Warga berharap tim ahli dapat mengambil sampel material pulau karang tersebut guna memastikan proses geologi yang menyebabkan kemunculan daratan baru itu.
Permintaan tersebut muncul karena masyarakat khawatir fenomena itu berkaitan dengan aktivitas gunung api bawah laut. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian dan kajian ilmiah.










