Oleh: Yusuf Blegur, Kolumnis
Di balik kesengsaraan dan penderitaan kehidupan rakyat serta kerusakan alam, ada kesenangan dan pesta-pora para penguasa
Watak kolonialisme dan imperialisme itu memang nyata. Mereka tidak datang datang dari yang hidup di masa lampau yang berbuat kerusakan. Mereka juga tidak datang atas nama sekumpulan orang-orang berseragam militer yang fasis, yang mengobarkan perang dan kehancuran dunia.
Mereka adalah segelintir manusia-manusia yang ada dan berkembang dalam kemajuan zaman. Memiliki status sosial dan jabatan mentereng, berdasi dan dihormati. Dengan gaji besar dan fasilitas fantastis, mereka menjalankan gaya hidup mewah dan penuh “previllage” yang dibiayai dari uang rakyat, dari keringat dan kesulitan rakyat.
Ini tentang sedikit orang-orang yang hidup di alam kemerdekaan yang memperlakukan rakyat sebagai orang jajahan. Bertindak bagai raja dan memperlakukan rakyat seperti budak. Pajak pengganti upeti, hukum yang membela penguasa apapun salahnya serta pelbagai perampasan aset rakyat dengan beragam dalih dan pembenaran.
Tak sekedar berlimpah kekayaan dan kewenangan luas, mereka juga menghiasi kekuasaannya dengan perangai anti kritik, arogan dan represif. Memunculkan sifat dan gaya kepemimpinan yang rakus pada harta sekaligus keji dan haus darah.








