KDRT Tidak Selalu Dimulai dengan Pukulan: Bahaya Ancaman dan Manipulasi Emosional

oleh -33 views

Porostimur.com, Jakarta Tidak semua kekerasan dimulai dengan luka fisik. Banyak tragedi yang lahir dari kata-kata yang tampak kecil, dari ancaman yang dianggap emosi sesaat, dari kontrol yang dibungkus alasan cinta. Tragedi yang menimpa Alvaro Kiano, bocah enam tahun yang kehilangan nyawanya di tangan ayah tiri, Alex Iskandar, menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga sering bermula dari kalimat yang melukai sebelum berubah menjadi pukulan.

KDRT tumbuh perlahan. Dimulai dari nada suara yang meninggi, kecemburuan yang dipaksakan sebagai bentuk perhatian, hingga kalimat seperti “kamu bodoh”, “kamu tidak berguna”, atau “tidak ada yang mau sama kamu selain aku”. Pola ini bukan kemarahan sesaat, melainkan jalur pembentukan dominasi. Banyak korban tidak melihatnya sebagai bahaya, karena tidak ada luka fisik. Padahal luka mental yang ditanam pelan-pelan bisa menghancurkan harga diri dan kemampuan berpikir jernih.

Baca Juga  Kunjungan Wisatawan ke Ambon Meningkat, Wattimena: Mama-mama Papalele Jadi Daya Tarik Baru

Ancaman seperti candaan, kontrol sosial, pembatasan komunikasi dengan keluarga atau teman, hingga manipulasi emosi, semua adalah bentuk kekerasan psikologis. Menurut definisi kekerasan psikologis, kontrol, intimidasi, dan penghinaan adalah bagian dari strategi pelemahan mental untuk membuat korban takut, bergantung, dan kehilangan suara diri. Banyak hidup hancur bukan karena pukulan pertama, melainkan karena red flag yang terlewat dan diabaikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.