Permintaan sederhana. Namun tampaknya terlalu mahal.
Sebagai gantinya, rakyat diberi tontonan rutin bernama reshuffle.
Nama-nama diumumkan dengan musik kebangsaan.
Wajah-wajah baru berbaris rapi. Sumpah jabatan dibacakan dengan khidmat. Pena ditandatangankan. Kamera menyorot senyum.
Karangan bunga berdatangan. Media menulis “babak baru pemerintahan.”
Padahal kadang yang berganti hanya nama di atas meja, bukan mutu yang duduk di kursi pejabat.
Kita juga memiliki tradisi indah: setiap pengangkatan selalu dibungkus narasi optimisme.
Sosok kontroversial disebut pekerja keras. Figur minim pengalaman disebut punya perspektif segar. Orang yang dipilih demi keseimbangan politik disebut representasi kebangsaan. Semua terdengar indah lewat polesan.
Bahasa resmi memang sering menjadi salon bagi kenyataan.
Namun kenyataan punya kebiasaan buruk: ia muncul lewat hasil kerja.
Jika sungai tetap kotor, hutan tetap dibabat habis, harga tetap naik, pesan pemerintah tetap kacau, maka publik perlahan mengerti bahwa masalah bukan pada slogan, melainkan pada seleksi.
Dan ketika kegagalan datang, meritokrasi kembali dicari. Seolah-olah ia dompet yang hilang setelah pesta selesai.
Kita memang bangsa yang unik. Saat memilih pejabat, kita sering memakai pertimbangan politik. Saat pejabat gagal, kita menuntut profesionalisme.










