Republik Kompromikrasi

oleh -29 views

Saat sukses kecil terjadi, kita menyebutnya kepemimpinan visioner.

Saat gagal besar datang, kita menyalahkan bawahan.

Tak heran meritokrasi terasa mahal. Ia diminta hadir hanya saat krisis, tetapi ditolak saat proses.

Sesungguhnya negara tidak kekurangan orang pintar. Kampus penuh pakar dibidangnya masing-masing.

Birokrasi penuh teknokrat.
Dunia profesional penuh talenta. Anak-anak muda dengan kapasitas nyata tersebar di mana-mana.

SDM berkualitas bukan langka. Yang langka adalah kemauan untuk memilih mereka ketika pilihan itu menuntut pengorbanan politik.

Jadi benar, meritokrasi mahal harganya.

Bukan karena kita tak mampu membayarnya.
Tapi karena terlalu banyak yang menikmati diskon dari ketidaklayakan.

Dan setiap kali jabatan strategis jatuh ke tangan yang keliru, rakyat kembali belajar pelajaran paling tua dalam politik: yang paling mahal di negeri ini bukan beras, bukan listrik, bahkan bukan pula rumah; yang paling mahal adalah menaruh orang tepat di tempat yang tepat. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.