Rilis Film ‘Mulan’ dan ‘Tenet’ Ditunda, Bioskop Global Terancam

oleh -24 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Bioskop-bioskop Eropa perlahan-lahan mulai dibuka kembali pertengahan Juni.

Para pengusaha berharap bahwa setelah beberapa pekan pemanasan dengan menayangkan film-film arsip, mereka dapat memutar film-film box office baru untuk memikat pelanggan secara massal di pertengahan musim panas.

Tetapi, penundaan berkepanjangan untuk rilis film seperti \”Mulan\”, \”Tenet\” hingga teatrikal \”The SpongeBob Movie: Sponge on the Run\” meninggalkan pengusaha bioskop dalam kesulitan yang mengerikan.

Dilansir melalui Variety, terlepas dari industri film lokal yang kuat di Eropa, film-film Hollywood cenderung menjadi faktor yang paling berpengaruh untuk box office musim panas.

Link Banner

\”Bahkan di Prancis, negara dengan penonton bioskop terbesar di benua biru, pangsa pasar untuk film Amerika meroket hingga setidaknya 70% selama musim panas,\” menurut perusahaan analitik Comscore, seperti dikutip melalui Variety, Selasa (21/7)

Salah satu pengusaha bioskop senior di Inggris menyesalkan jika mereka tidak punya film baru dalam beberapa bulan ke depan, maka bioskop tidak punya cukup sumber daya untuk beroperasi.

Baca Juga  Pemprov Maluku Pesan 400 APD dan 1000 Rapid Test

Untuk sebagian besar bioskop, 70%-80% film baru yang mereka putar adalah box office dari lua negeri.

Bioskop di Inggris diizinkan untuk dibuka sejak 4 Juli, tetapi rantai besar seperti Vue dan Cineworld, yang awalnya menetapkan tanggal 10 Juli untuk membuka bioskop mereka, mendorong kembali jadwal setelah rilis \”Tenet\” dan \”Mulan\” ditunda pada akhir Juni.

Kedua rantai bioskop itu rencananya akan dibuka pada 31 Juli, tetapi itu bisa berubah jika tanggal rilis bergeser lagi pekan ini, seperti yang diprediksi.

\”Kami menunggu untuk melihat apa yang terjadi dengan tanggal rilis sebelum membuat keputusan akhir,\” kata Tim Richards, CEO Vue Intl., yang mengoperasikan 91 bioskop di Inggris Raya.

Raksasa bioskop ini memiliki sekitar 81 teater yang saat ini beroperasi di seluruh benua Eropa, termasuk Jerman, Denmark, Belanda, Lithuania, Polandia, dan Italia.

Baca Juga  Desa Capalulu Diterjang Banjir

Semua tetap beroperasi berkat jadwal re-release, tetapi Richards mencatat bahwa ini bukan model bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.

“Kita dapat melihat momentum dan membangun kepercayaan konsumen, tetapi kita tidak dapat berkembang lagi sebagai industri tanpa upaya terpadu dari rilis-rilis utama,” tuturnya.

\”Saya ingin berpikir, sebagai sebuah industri, kita dapat melihat ini secara global, karena beberapa negara bagian AS, Tiongkok dan Eropa pulih, dan merilis film di pasar yang telah dibuka kembali.\”

Lucy Jones, direktur eksekutif Comscore untuk Inggris dan Irlandia, Italia, Timur Tengah dan Afrika, mengatakan lebih dari 35% bioskop Eropa telah dibuka kembali di pertengahan musim panas.

Ada permintaan besar untuk rilis film baru, katanya, tetapi kebijakan lockdown dan pembatasan jarak sosial di berbagai negara saling bertabrakan, menyebabkan sakit kepala untuk studio yang menimbang manfaat dari kampanye pemasaran global terhadap maksimalisasi peluang lokal.

Baca Juga  Teriaki Huwae penipu, RR dipolisikan

Di sisi lain, distributor indie saat ini memiliki kesempatan nyata untuk merilis film mereka secara luas untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh studio Hollywood.

Comscore mencatat bahwa dalam sebulan terakhir, film lokal lebih banyak diputar di Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, dan Belanda, di antara wilayah lain, sebagian besar disebabkan oleh kenyataan bahwa film-film ini memiliki akses ke lebih banyak untuk naik layar daripada biasanya.

Tetapi, bagi kebanyakan pemilik bioskop, film lokal saja tidak cukup.

\”Kita tidak bisa hanya duduk dan menunggu. Kita harus membiarkan pintu terbuka dan berharap studio AS akan datang dengan film mereka,\” kata Peter Fornstam, CEO Svenska Bio yang seluruh bioskopnya akan dibuka kembali di Swedia pada 31 Juli. (red/rtm/bisnis)