Oleh: Siti Sarah Albar, Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun, Ternate
Hilirisasi nikel di Maluku Utara kerap diposisikan sebagai simbol kemajuan industri nasional. Salah satu lokomotif utamanya adalah PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), kawasan industri terpadu pengolahan nikel yang berlokasi di Desa Lelilef, Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Didirikan pada 2018 dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), IWIP diharapkan menjadi tulang punggung penguatan industri berbasis sumber daya alam di Indonesia timur.
Dengan dukungan Tsingshan Holding Group dan kehadiran tenant utama seperti PT Weda Bay Nickel (WBN), IWIP menjelma sebagai magnet lapangan kerja, terutama bagi generasi muda. Namun, di balik besarnya skala investasi dan ekspektasi nasional tersebut, terdapat tantangan serius yang kerap luput dari sorotan publik: tingginya risiko turnover karyawan.
Turnover yang tidak terkendali bukan sekadar persoalan pergantian tenaga kerja. Ia berpotensi mengganggu stabilitas organisasi, menurunkan produktivitas, meningkatkan biaya operasional, bahkan menghambat pencapaian tujuan strategis hilirisasi nikel itu sendiri.
Faktor Geografis, Sosial, dan Tekanan Psikologis
Letak IWIP di wilayah kepulauan Maluku Utara menghadirkan tantangan geografis yang tidak sederhana. Keterbatasan infrastruktur transportasi, akses layanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas sosial lainnya berdampak langsung pada kualitas hidup karyawan—terutama mereka yang berasal dari luar daerah.









