Ketika Sejarah Memanggil Masa Depan
“In politics, you have to know what you want to achieve, and you have to know how to count.” — David Plouffe, arsitek kampanye Barack Obama—.
Politik membutuhkan tujuan, kemampuan membaca angka, dan keberanian menghadapi kenyataan. Sehari menjelang pelantikan, Umar Lessy semestinya memahami bahwa jabatan Ketua DPD bukanlah mahkota untuk menikmati kebesaran organisasi, melainkan mandat untuk memikul beban pembaruan. Ia tidak cukup hanya menjadi pemimpin yang berhasil merapikan struktur atau menyatukan elite. Ia harus membuktikan bahwa Golkar masih memiliki daya hidup, masih sanggup mendengar suara rakyat, dan masih relevan dalam percakapan tentang masa depan Maluku.
Pemilu 2029 akan menjadi ujian pertama yang besar bagi hasil kerja kepemimpinan ini. Apakah Golkar mampu memperbesar representasinya di Baileo Rakyat Karang Panjang? Mampukah partai ini memperluas basis dukungan dari Ambon hingga pulau-pulau terluar? Sanggupkah ia merangkul generasi baru tanpa kehilangan pengalaman generasi lama, sekaligus membangun kemenangan yang tidak bergantung pada politik transaksional? Semua pertanyaan itu tidak akan dijawab oleh kemeriahan pelantikan, pidato pejabat, atau panjangnya daftar nama dalam kepengurusan. Jawabannya hanya akan ditemukan dalam kerja nyata dan keberanian melakukan pembenahan.









