Empat kursi di Baileo Rakyat Karang Panjang tentu bukan kehampaan politik. Namun, bagi partai dengan sejarah, jaringan, dan ambisi sebesar Golkar, angka tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi serius. Ada kesenjangan antara kebesaran organisasi dan hasil elektoral yang tidak boleh ditutupi dengan retorika keberhasilan. Pertanyaannya bukan sekadar mengapa suara Golkar belum cukup besar, melainkan mengapa jaringan politik yang dimiliki belum mampu menghasilkan representasi yang lebih kuat. Di sinilah diperlukan keberanian untuk melakukan otokritik, sebab partai yang tidak sanggup membaca kelemahannya sendiri biasanya akan lebih sibuk mencari kambing hitam daripada memperbaiki keadaan.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika diletakkan dalam konteks geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan. Sebelas kabupaten/kota memiliki karakter sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang berbeda. Ambon tidak bisa dibaca dengan kacamata yang sama seperti Kepulauan Aru; dinamika Seram Bagian Timur tidak identik dengan Maluku Barat Daya; begitu pula konfigurasi politik di Buru, Maluku Tengah, Kepulauan Tanimbar, dan Maluku Tenggara. Karena itu, strategi politik yang terlalu berpusat pada Ambon hanya akan melahirkan kesenjangan antara pusat pengambilan keputusan dan denyut kehidupan masyarakat di pulau-pulau.









