Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Biasanya di ruang-ruang kelas universitas di Indonesia, saat semester satu atau dua beranjak, seringkali mahasiswa disuguhi teori Barat dengan segala atributnya, sementara di universitas Timur Tengah, khususnya di Al-Azhar, mahasiswa lebih dikenalkan dasar-dasar ilmu agama (ulummiddin) dan relasinya dengan humaniora.
Kisah berbeda bagi universitas yang ada di Iran, menurut pengakuan para alumninya, hingga semester dua, seluruh mahasiswa diwajibkan secara akademik membaca karya sastra Shahnameh karya Hakim Abulqasim Firdausi. Kenapa demikian? Mungkin saja Firdausi tidak sedang menulis dongeng sebelum tidur; tetapi ia sedang “memahat” karakter bangsa Persia dengan patriotisme yang pantang tunduk.
Shahnameh adalah nyawa yang merawat bahasa, sejarah, dan martabat Iran pasca-penaklukan Arab, dan hari ini, epik itu hidup kembali, berdenyut keras di Selat Hormuz. Apa yang diajarkan oleh karakter seperti tokoh utama Rustam, pahlawan legendaris yang membela Iran dari ancaman luar, jika bukan tentang keteguhan prinsip?
Rustam dalam Shahnameh bukanlah pahlawan yang meratapi nasib; ia bergerak, ia melawan. Karakter bangsa Iran hari ini, yang dibentuk oleh salah satunya karya epik ini, adalah campuran dari kelembutan sastra dan keteguhan pertahanan. Iran tidak memandang dunia dengan kacamata kelemahan, keterbatasan dan ketakutan.











