Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Pep Guardiola pelatih Manchester City, itu kembali menuai kritik, khususnya dari komunitas yahudi di Manchester setelah menyuarakan kepeduliannya terhadap penderitaan manusia di berbagai konflik, terutama Palestina.
Namun Guardiola tidak mundur. Ia mempertanyakan logika yang mencoba membatasi nurani: mengapa seorang pelatih sepak bola tidak boleh berbicara tentang tragedi global? Ia menegaskan akan terus menggunakan platformnya untuk memberi suara kepada mereka yang tak terdengar.
Sikap itu bukan ledakan emosional sesaat. Dalam berbagai kesempatan, Guardiola menekankan bahwa pembunuhan terhadap orang-orang tak bersalah di Palestina, Ukraina, Sudan, dan wilayah lain adalah persoalan seluruh umat manusia. “Ini masalah kita sebagai manusia,” katanya, seraya mengingatkan bahwa di era informasi seperti sekarang, tragedi tidak lagi bisa disembunyikan dari mata dunia.
Bahkan dengan nada getir ia menegur nurani global: orang-orang sedang sekarat, dan karena itu kita harus menolong. Ia meratapi penderitaan warga sipil dan mendesak masyarakat untuk tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan.
Di titik inilah suara Guardiola menjadi penting—bukan karena ia pelatih hebat, tetapi karena ia menolak menjadi bagian dari “sunyi kolektif.” Ketika sebagian pihak menyuruhnya fokus pada sepak bola, ia justru mempertahankan hak moralnya untuk bersuara, meski tahu kritik akan datang.









