Dan di antara keduanya, sebuah kalimat tak terelakkan menggema:
Gaza hidup dalam pidato, tetapi absen dalam pasal—tidak disebut dalam sepuluh poin kesepakatan gencatan senjata Iran-AS.
Namun esai ini tidak berhenti pada satu alamat. Ketidakhadiran Gaza dalam dokumen itu juga memantulkan krisis yang lebih luas—krisis kepemimpinan di dunia Muslim itu sendiri. Dunia Arab yang mayoritas Sunni tidak pernah benar-benar solid. Ia terbelah oleh kepentingan, oleh ketakutan terhadap instabilitas, oleh relasi yang rumit dengan kekuatan global.
Dalam situasi seperti itu, Gaza berubah rupa. Ia bukan lagi sekadar wilayah yang harus dibela, tetapi menjelma menjadi simbol yang bisa dipakai, komoditas politik yang bisa dipertukarkan, dan alat legitimasi yang bisa diangkat kapan saja diperlukan.
Di satu sisi, ada yang meneriakkannya.
Di sisi lain, ada yang menegosiasikannya.
Dan di antara keduanya, Gaza tetap berada di tempat yang sama—terluka, tetapi diperebutkan maknanya.
Barangkali, di sinilah ironi terbesar itu bersemayam.
Mungkin Gaza tidak benar-benar dilupakan.
Ia hanya terlalu sering disebut—hingga akhirnya tidak lagi diperjuangkan. (**)









