“Jadi kami fokus untuk memasang dan memperbanyak jalur evakuasi di Tehoru sehingga mempermudah warga melakukan evakuasi mandiri ke lokasi aman jika suatu saat terjadi gempa dan tsunami,” katanya.
Pihaknya juga secara masif melakukan sosialisasi dengan melibatkan semua unsur pentaheliks guna meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang mitigasi bencana.
Apalagi, berdasarkan pemodelan yang dilakukan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kecamatan Tehoru pada September 2021, seluruh wilayah pantai di Maluku, terutama Pulau Seram, pernah terdampak tsunami dalam skala besar maupun kecil.
Pulau Seram memiliki potensi bahaya tsunami nonteknik atau tsunami yang bukan disebabkan gempa dalam skala cukup tinggi, karena pesisirnya merupakan laut dalam dengan tebing-tebing curam dan rawan longsor.
“Karena itu upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat untuk melakukan evakuasi secara mandiri ke lokasi titik kumpul yang aman sangat diperlukan, kendati semua usaha yang dilakukan ini diperhadapkan dengan minimnya anggaran yang diperlukan,” katanya.
(red/voi)




