Porostimur.com, Bahgdad – Nawal Sweidan, diam-diam melipat pakaian putranya dan merapikan seprai di kamarnya seperti yang biasa. Dia masih melakukannya secara rutin meskipun putranya sudah hampir 10 tahun tidak pulang sejak dibawa pergi oleh milisi. Putranya Safaa menghilang pada akhir Juli 2014.
Saat itu sekelompok pria muncul di depan pintu rumahnya dan meminta Safaa–seorang mahasiswa hukum– sebagai pembawa pos di awal usia 20-an. “Mereka memberi tahu kami bahwa mereka hanya ingin menanyainya dan akan segera mengembalikannya,” kata Sweidan.
Dua puluh tahun setelah invasi pimpinan AS ke Irak tahun 2003, sebagian besar konflik dan pertumpahan darah sektarian telah mereda. Tapi tahun-tahun kenangan itu masih membekas di ribuan orang, terlebih bagi keluarga-keluarga seperti Safaa yang merasa dilupakan saat mencari jawaban tentang nasib orang yang mereka cintai. Tak hanya Safaa, ribuan orang masih dinyatakan hilang sejak invasi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada 2003 lalu.
Ketika mencoba membuka halaman masa lalu Irak yang bermasalah, pemerintah belum membentuk komisi untuk mencari orang hilang karena sebagian politisi terkait dengan kelompok bersenjata yang terlibat dalam penculikan dan pembunuhan.




