Selama masa pemerintahannya, Bashar Assad dan ayahnya, Hafez Assad, yang memimpin hingga tahun 2000, dikenal menjalankan rezim dengan tangan besi. Kelompok hak asasi manusia menuding rezim Assad melakukan pembantaian terhadap para penentangnya, termasuk melalui eksekusi massal di sistem penjara yang brutal.
Perang saudara Suriah yang berlangsung lebih dari 13 tahun akhirnya berakhir setelah Damaskus dikuasai oleh pasukan pemberontak pada 8 Desember 2024 lalu. Assad dikabarkan melarikan diri ke Moskwa, Rusia. Saat ini, proses transisi pemerintahan tengah berlangsung secara damai di Suriah.
Moustafa, yang menyambangi Suriah setelah Assad melarikan diri, menyatakan bahwa jenazah-jenazah yang ditemukan merupakan korban penyiksaan hingga tewas di penjara-penjara rezim Assad. Menurutnya, jenazah-jenazah tersebut dikumpulkan oleh intelijen Suriah dari rumah sakit militer, dimasukkan ke dalam peti kemas berpendingin, dan akhirnya dijejalkan ke lubang kuburan massal.
Ia juga mengungkapkan bahwa timnya telah mendapatkan pengakuan dari saksi, termasuk seorang sopir buldozer yang terlibat dalam penggalian lubang kuburan. Sopir tersebut mengaku sering diperintahkan untuk memadatkan jenazah agar muat dalam lubang, lalu menimbunnya dengan tanah.










