Semuanya bermula pada tahun 2019 ketika seorang warga negara Myanmar yang dikenal sebagai Ko Phillip, yang konon menjalankan bisnis perdagangan komoditas, memberi tahu Nyan Win bahwa dia sedang mencari seseorang untuk mendirikan perusahaan di Singapura guna membantunya menjalankan bisnisnya.
Perusahaan di Singapura tersebut kemudian membuka rekening bank perusahaan, yang akan digunakan untuk menerima dan mentransfer dana atas instruksi Ko Phillip.
Berdasarkan kesepakatan ini, dia menawarkan komisi sebesar 0,5 kyat Myanmar (0,03 sen Singapura) kepada Nyan Win untuk setiap USD1 yang diterima.
Nyan Win tertarik dengan peluang ini. Namun, dia tidak yakin apakah dia dapat membuka rekening bank perusahaan melalui Piyar International, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kendaraan bermotor, tempat dia menjabat sebagai direktur.
Tanpa mengungkapkan detailnya, Wakil Jaksa Penuntut Umum Ryan Lim mengatakan kepada pengadilan pada bulan Maret bahwa hal ini terjadi karena bank-bank sebelumnya telah menutup rekening bank perusahaan Piyar.
Nyan Win kemudian menghubungi suami; Zin Nwe Nyunt, dan menceritakan tentang potensi peluang bisnis ini dengan Ko Phillip.
Karena sang suami bekerja penuh waktu, dia menyarankan agar Zin Nwe Nyunt membantu pendirian perusahaan baru tersebut.










