The Economist, Prabowo, dan Perang Semu Dua Mazhab Ekonomi

oleh -26 Dilihat

Tetapi justru di situlah pertanyaan paling mendasar harus diajukan: benarkah Prabowonomics sudah layak disebut mazhab ekonomi?

Atau jangan-jangan, yang sedang dipertontonkan hanyalah perang semu dua mazhab ekonomi. Sebab sebuah mazhab tidak lahir dari slogan politik, tepuk tangan pendukung, atau istilah yang ramai diperdengarkan di media sosial. Ia lahir dari bangunan gagasan yang utuh. Dari fondasi teoritik yang kokoh. Dari cara pandang yang jelas tentang manusia, negara, pasar, modal, distribusi kesejahteraan, hingga relasi kekuasaan dalam ekonomi.

Kapitalisme memiliki akar panjang sejak Adam Smith. Sosialisme bertumpu pada kritik besar Karl Marx. Keynesianisme lahir dari pergulatan pemikiran John Maynard Keynes terhadap krisis ekonomi dunia. Bahkan neoliberalisme dibangun puluhan tahun melalui jaringan intelektual global, lembaga keuangan internasional, dan terutama mazhab University of Chicago yang melahirkan arsitek-arsitek pasar bebas modern.

Baca Juga  Ironi Syahganda, Jalan Politik Anies, dan Tafsir Baru Etika

Sedangkan Prabowonomics sejauh ini masih lebih mirip kumpulan naluri politik, program populis, dan retorika nasionalisme ekonomi yang bahkan belum selesai mendefinisikan dirinya sendiri.

Apa sebenarnya fondasi teorinya? Apakah ia hendak menjadi kapitalisme negara? Ekonomi kerakyatan? Neo-developmentalisme? Proteksionisme modern? Atau sekadar nasionalisme retoris yang dibungkus jargon kedaulatan? Belum ada jawaban yang benar-benar utuh.

No More Posts Available.

No more pages to load.