Trump dilaporkan menepis kekhawatiran tersebut dan meyakini kekuatan militer AS mampu menangani berbagai persoalan yang mungkin muncul selama perang.
Keputusan tersebut kemudian membawa AS memasuki konflik yang konsekuensinya tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Harga Energi Melonjak, Perang Mulai Kehilangan Momentum
Menurut laporan WSJ, antusiasme Trump terhadap dimulainya perang kemudian berubah ketika konsekuensi ekonominya mulai terasa.
Salah satu indikator yang disebut menjadi perhatian adalah melonjaknya harga bahan bakar.
Pada saat bersamaan, perang juga tidak berkembang sebagaimana yang mungkin diharapkan Washington.
Iran disebut tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah di bawah tekanan militer AS. Kondisi tersebut membuat konflik berpotensi berubah menjadi perang yang lebih panjang dan mahal.
Situasi itu kemudian mendorong sejumlah pemimpin negara Arab di kawasan untuk meminta Gedung Putih mencari jalan keluar melalui diplomasi.
Arab Saudi dan Qatar termasuk negara yang disebut mendesak Washington mempertimbangkan penyelesaian politik.
Perkembangan tersebut memperlihatkan persoalan klasik dalam setiap perang: memulai konflik mungkin lebih mudah daripada menentukan bagaimana dan kapan konflik itu harus diakhiri.
Di atas kertas, kekuatan militer AS memang jauh lebih besar. Namun, perang dengan Iran membawa konsekuensi yang tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah rudal, pesawat tempur atau pasukan.









