Tumbal di Rempang

oleh -415 views

Perkalian dan pembagian ekonomi di atas kertas tentu saja tidak bisa mengkalkulasi kerugian-kerugian lain. Untuk para investor dan developer, para nelayan ini adalah penghalang dari tujuan mereka. Namun benarkah demikian?

Pulau Rempang luasnya 16 ribu hektar. Sekitar 45% dari luasan pulau ini akan dipakai sebagai eco-city dan industri. Pertanyaan saya, mengapa tidak ada ruang untuk masyarakat tradisional dan membiarkan mereka memelihara kebudayaannya? Bukankah mereka adalah identitas Rempang? Mengapa mereka harus ditumbalkan demi proyek strategis nasional, yang kita tahu siapa yang akan mendapat manfaat terbesar dan pundi-pundi siapa yang paling digemukkan?

Ada banyak kota metropolis yang justru memelihara identitas lokal mereka. Hongkong masih memiliki masyarakat nelayan yang hidup secara tradisional dan bahkan menjadi pensuplai kebutuhan ikan lokal.

Baca Juga  Fans Murka, Petisi Jual Mbappe Tembus 44 Juta Tanda Tangan

Mengapa investor di sini sangat tidak toleran dan berpikir bahwa tugas mereka selesai dengan membikin rumah seragam dan ganti rugi sekedar untuk penduduk tradisional Rempang? Mengapa pula kekerasan harus digunakan?

Dari berita yang saya terima, semalam ada delapan penduduk asli yang menolak proyek eco-city ini terluka. Ada diantara mereka yang terkena panah. Pantaskah mereka mendapat perlakuan ini?

No More Posts Available.

No more pages to load.