Porostimur.com | Ambon: Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia memang memiliki banyak kosakata yang serupa. Kendati demikian, ternyata sejumlah di antaranya justru melahirkan makna yang kontras berbeda. Imbasnya, terjadilah semacam salah kaprah, apalagi jika konotasi makna di antara dua bahasa tersebut terlalu timpang.
Contohnya saja beberapa kosakata berikut, yang rupanya berkonotasi negatif, tepatnya ‘vulgar’.
1. Seronok

Kata ‘seronok’ dalam bahasa Malaysia merujuk pada konotasi positif seperti ‘menyenangkan atau enak dipandang’. Namun, kata ini memiliki konotasi negatif dalam bahasa Indonesia. Tepatnya, ‘seronok’ merujuk pada hal-hal yang berbau vulgar alias tak sejalan dengan norma kesusilaan.
2. Gampang

Kata yang satu ini kerap dipakai dalam keseharian masyarakat Indonesia, dan merujuk pada arti ‘mudah’. Akan tetapi, kata ‘gampang’ di Malaysia ternyata memiliki makna yang jauh berbeda. Pasalnya, kata tersebut merujuk pada konotasi negatif yakni ‘anak haram’.
3. Butuh

Dalam bahasa Indonesia, kata ‘butuh’ bersinonim dengan kata ‘perlu’. Sedangkan, di Malaysia, kata ‘butuh’ ternyata memiliki arti yang sangat berbeda, yakni merujuk pada organ genital pria. Padanan kata dalam bahasa Malaysia yang maknanya setara dengan kata ‘butuh’ dalam konteks bahasa Indonesia adalah kata ‘perlu’.




