Ia mengingatkan masyarakat Maluku agar menjaga nilai orang basudara, pela, dan gandong, yang menekankan rasa hormat dan solidaritas, juga di dunia maya.
“Kalau di dunia nyata kita bisa saling sapa, peluk, dan bergandeng tangan, kenapa di dunia maya harus saling serang? Dunia digital juga bagian dari kehidupan sosial kita,” ujar Aril.
Ia menambahkan, literasi digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan media sosial, tetapi juga kemampuan menahan diri.
“Kalau di dunia nyata kita bisa jaga lisan, maka di dunia maya juga kita harus jaga jari mai (jempol),” tegasnya.
Pesan Mafindo Maluku
Aril mengingatkan kreator dan pengguna media sosial di Ambon dan Maluku agar tidak mengorbankan etika demi popularitas. Viral boleh, tapi jangan mengorbankan nilai persaudaraan.
Ia menekankan bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi sosial, karena dunia maya memengaruhi kehidupan nyata.
“Jari mai itu kecil, tapi bisa menyalakan api besar. Gunakan untuk menyalakan terang, bukan membakar rumah sendiri. Maluku terlalu berharga untuk dijadikan medan kebencian digital,” tutup Aril Salamena. (Piere Pattipawaey)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com









