Virus Nipah Masuk Indonesia? Begini Cara Penularan, Gejala hingga Cara Pencegahannya

oleh -76 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Belum selesai masalah Pandemi Virus Corona, kini ada lagi virus baru, Virus Nipah. Selain Angel Sepang dan Nunuk Indomie, kata kunci Virus Nipah Malaysia juga dicari masyarakat. 

Lalu bagaimana soal penularan Virus Nipah, cara penularan Virus Nipah, hingga cara pencegahannya. 

Nah, Kabar Buruknya ada potensi virus ini masuk Indonesia karena media penyebaran dari kelelawar. Kenapa diminta hati-hati makan buah yah. 

Cek selengkapnya di sini:  

Jika tidak dicegah, virus ini bisa saja kembali mewabah.

Informasi dihimpun tribun, virus ini ditemukan di kawasan Asia oleh pemburu virus asal Thailand, Supaporn Wacharapluesadee. 

Dikutip dari BBC (12/1/2021), Supaporn merupakan yang diketahui juga peneliti di Chulalongkorn University, Bangkok sudah mengambil ribuan sampel kelelawar dan mendeteksi banyak jenis virus.

Benar saja, dia menemukan jenis virus Corona pada banyak sampel.

Namun mencengangkan, ada jenis virus lain yang berhasil ia dapatkan yakni Virus Nipah yang dapat menular kepada manusia. Celakanya belum ada vaksinnya.

Virus nipah berasal dari inang kelelawar buah dan hingga saat ini, virus yang disingkat dengan NiV. 

Baca Juga  Potensi Rokan Masih Jadi Andalan SKK Migas Menuju Produksi 1 Juta Barel

Ternyata Virus Nipah telah menyebabkan kematian di antara 40-75 persen orang yang terinfeksi. 

Gejala

Hampir sama seperti Covid-19, dikutip dari laman WHO, infeksi NiV pada manusia dapat menimbulkan gejala dan ada juga yang tidak bergejala. 

Dampak paling parah disebutkan bisa berupa infeksi saluran pernapasan akut, kejang, ensefalitis yang fatal, hingga menyebabkan koma dalam waktu 24-48 jam.

Namun untuk gejala umumnya, orang yang terinfeksi virus ini biasanya akan menunjukkan gejala sebagai berikut:

Demam,

Sakit kepala,

Nyeri otot,

Muntah,

Sakit tenggorokan.

Tidak berhenti di situ, ada pula gejala yang tidak umum yang dirasakan orang yang terinfeksi seperti: 

Pusing,

Mengantuk,

Pneumonia atipikal,

Turunnya kesadaran,

Tanda-tanda neurologis.

Masa inkubasi

Sementara itu masa inkubasi atau waktu penularan hingga gejala muncul diyakini antara 4-14 hari, akan tetapi masa inkubasi virus di dalam tubuh berlangsung selama 45 hari.

Baca Juga  Kesadaran masyarakat rendah, laka lantas di Maluku tinggi

Cara penularan

Belajar dari pengalaman wabah yang pernah terjadi di Malaysia, infeksi pada manusia disebabkan oleh kontak langsung dengan babi atau binatang yang sakit.

Transmisi virus berlangsung melalui paparan sekresi binatang tersebut kepada manusia.

Dalam wabah yang terjadi di Bangladesh dan India, transmisi berlangsung dari konsumsi buah-buahan atau produk buah yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah.

Pada kejadian wabah kali ini, penularan langsung dari manusia ke manusia juga dilaporkan sudah terjadi.

Penularan ini terjadi melalui kontak dekat dengan orang yang sudah terpapar.

Cara pencegahan

Sebelumnya, virus ini pernah merebak pada tahun 1999 dan diketahui berasal dari peternakan babi, namun pernah juga berasal dari kelelawar buah.

Sementara itu salah satu cara pencegahan yang bisa diupayakan adalah dengan melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara rutin pada area-area yang dianggap rawan.

Baca Juga  24 Tahun Perhimpunan Kanal Maluku "Perjalanan Tanpa Batas"

Jika wabah kembali dicurigai terjadi, maka hewan-hewan yang menjadi inangnya harus segera dikarantina atau dimusnahkan.

Tidak sekadar dimusnahkan, proses penguburan atau pembakarannya juga harus di bawah pengawasan ketat untuk mengurangi risiko penularan kepada manusia.

Sebelum infeksi terjadi pada manusia, membatasi pergerakan hewan dari satu peternakan ke peternakan lain juga bisa diupayakan agar virus tidak menyebar semakin luas.

Pengobatan

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, belum ada obat atau vaksin yang spesifik dapat digunakan untuk menangani infeksi virus nipah.

Jika ada orang yang teridentifikasi terpapar virus ini maka penanganan yang diberikan bisa berupa pemberian dukungan medis secara intensif.

Terutama untuk menangani gangguan pernapasan dan komplikasi neurologis yang mungkin terjadi.

(red/tribunnews)