“Sekarang di dunia terjadi perubahan besar. Orang mulai mengurangi konsumsi susu dan beralih ke santan. Ini peluang besar bagi kita di Maluku,” imbuhnya.
Program Perkebunan Kakao untuk Masyarakat
Vanath memaparkan program Pemerintah Provinsi Maluku untuk mengembangkan perkebunan kakao berbasis pemberdayaan masyarakat. Setiap petani akan mendapat satu hektare lahan, bibit, pendampingan, dan insentif Rp1,5 juta per bulan selama dua tahun pertama.
“Apabila target 5.000 hektare dapat direalisasikan, program ini akan menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp1,2 triliun per tahun yang langsung dirasakan masyarakat,” jelas Vanath. Ia menambahkan, setelah dua tahun masa tanam, petani diperkirakan bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp5 juta per minggu atau Rp20 juta per bulan.
Vanath menegaskan, program ini juga bertujuan mengubah pandangan masyarakat bahwa menjadi petani adalah pekerjaan modern dan menjanjikan.
“Kita ingin ubah mindset bahwa petani bukan profesi rendahan, tapi profesi produktif dan terhormat,” tegasnya.
Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah dan Pemerintah
Menutup sambutannya, Abdullah Vanath mengajak Pemuda Muhammadiyah untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah. Ia menekankan, Maluku harus dibangun di atas fondasi ekonomi kuat dan tidak hanya bergantung pada dana transfer pusat.









