Ekonomi dalam pikiran Baqir as-Shadr bukan sekadar distribusi materi, tapi sistem nilai yang menjadikan manusia sebagai wakil Tuhan. Dalam Islam, ekonomi adalah cabang dari etika. Di Maluku, itu hidup dalam adat. Dalam pela, gandong, dan panen yang tak pernah hanya untuk satu orang. Tapi hari ini, sistem ekonomi kita berdiri di atas individualisme yang dingin dan mekanis. Kita terlalu banyak menyalin, terlalu jarang menyelami.
Membangun desa bukan hanya soal infrastruktur. Jalan dan jembatan memang penting, tapi lebih penting membangun nilai. Desa Maluku harus dibangunkan dari tidur panjangnya—bukan dengan suara keras, tapi dengan mengembalikan ruh ekonomi yang pernah menjadikannya pusat. Sebuah ekonomi yang tak hanya efisien, tapi juga adil. Tak hanya kompetitif, tapi juga kolektif.
Di atas laut yang tenang, perahu nelayan menyimpan filosofi: tak bisa jalan jika satu dayung menolak gerak. Ekonomi desa juga begitu. Ia tak bisa digerakkan oleh investor semata, atau oleh anggaran pusat yang turun seperti hujan dari awan asing. Ia harus digerakkan oleh tangan warga, oleh semangat yang menyala dari bawah. Seperti kata Bung Hatta: “kemerdekaan adalah kerja kolektif.”
Maluku, sejak awal, berdiri bukan dari satu kota, tapi dari banyak dusun yang saling menjalin. Itulah kekuatannya. Tapi kini, justru itu yang dilupakan. Ekonomi ditarik ke pusat, dan desa dikeringkan dari dalam. Pusat yang terlalu kuat menyedot tenaga pinggiran. Padahal dalam gagasan para pendiri bangsa, seperti Soekarno dan Hatta, desa adalah lumbung kekuatan nasional. Bukan beban, tapi fondasi.








