Oleh: Wirol Haurissa, Sastrawan Maluku
Di tengah biru Samudera Pasifik, tersembang sebuah permata kecil bernama Pulau Mayau. Bukan sekadar gumpalan tanah di peta, Mayau adalah denyut kehidupan, tempat ladang kehidupan bagi ratusan kepala keluarga yang menggantungkan nasibnya pada pohon kelapa.
Dari Mayau, kisah kopra – daging kelapa kering yang menjadi komoditas utama merangkai jalinan hidup, perjuangan, harapan dan kegigihan menenun hari-hari.
Dari kejauhan, pulau ini tampak tenang, namun di balik ketenangannya tersimpan sebuah kisah tentang ketahanan dan kerja keras yang luar biasa, berpusar pada satu komoditas: kopra.
Pagi di Mayau selalu disambut dengan aroma kelapa yang khas. Para petani, dengan cekatan, memulai rutinitas turun-temurun. Setiap sisi kelapa, kelapa tua yang jatuh dari pohon-pohon menjulang, adalah awal dari sebuah proses panjang. Dengan keahlian yang diwarisi, mereka mencungkil isi kelapa hingga terlepas sempurna dari tempurungnya.
Suara “krek” yang renyah menjadi simfoni pembuka hari, tanda dimulainya transformasi dari buah menjadi komoditas berharga. Isi kelapa yang sudah dicungkil kemudian dijemur di tempat asaran kopra.
Di bawah terik matahari khatulistiwa, daging kelapa perlahan mengering, berubah warna dan tekstur, mengeluarkan minyaknya yang berharga. Proses ini bukan hanya tentang pengeringan; ini adalah tentang kesabaran, tentang menunggu alam bekerja sama untuk menghasilkan kualitas terbaik. Setiap lembar kopra yang kering adalah bukti dari peluh yang menetes dan harapan yang dipupuk.








