Warga Resah, Limbah Penginapan di Kadewatan Belum Diketahui

oleh -100 views
Link Banner

[carousel_slide id=’11594′]

@Porostimur.com  Ambon : Bukan hanya limbah air yang belum diketahui kearah mana pembuangannya, namun limbah pembangunan penginapan di kawasan Kadewatan Ambon, sangat meresahkan masyarakat yang berdomisili di sekitar lokasi pembangunan dimaksud.

Terlebih bangunan yang berlokasi di Kawasan Kadewatan, Kelurahan Rijali, Kecamatan Sirimau itu, bakalan dijadikan guest house berlantai 7.

Pada tahap pembangunan saja, hanya satu lantai di bagian atas yang ditutupi atau dilapisi dengan jaring pengaman, sementara lantai di bawahnya tidak.

Penggunaan jaring itu sendiri baru dilakukan setelah adanya material bangunan yang jatuh menimpa atap perumahan warga di sekitar lokasi pembangunan.

Keresahan warga ini turut dibenarkan Ketua RT 001/004, kawasan Kadewatan, Kelurahan Rijali, Kecamatan Sirimau, Sammy Saputera (50), saat berhasil dikonfirmasi wartawan, Senin (5/8).

Seperti apa pembuangan limbah bangunan dimaksud, akunya, masih belum diketahui masyarakat setempat.

”Saya dilantik sebagai RT baru sebulan dan saya tidak tahu nanti limbah itu dibuang kemana. Katong saja seng tau ini bangunan apa. Syukur-syukur ini penginapan atau guest house, kalo restoran? Bayangkan gemuk-gemuk (lemak-red) limbahnya itu,” ujarnya.

Baca Juga  Modus penyelundupan narkoba melalui komoditas pertanian belum ada di Ambon

Bahkan, jelasnya, pembangunan dimaksud terkesan dimuluskan pengurusan ijinnya, mengingat bangunan yang baru dibangun diduga merupakan milik pengusaha Toko Galaxi Komputer Ambon, Hengky.

Tak segan, aksi dimaksud pun disebutnya dengan nama black market.

Black market itu istilah saya. Saya mau tanya, seandainya IMB ini keluar tanpa desain pembuangan limbahnya seperti apa, apa itu bukan namanya loncatLoncat kan?” herannya.

Jika bangunan dimaksud merupakan bangunan berlantai tujuh, tegasnya, maka diperlukan kajian mendalam atas dampak lingkungan, bukan hanya pada saat pembangunannya namun juga operasionalnya bangunan dimaksud.

”Dengan demikian, harus ada kajian terkait lingkungan. Jika bukan ijin Amdal, ya mesti ada dokumen lain soal rencana pengelolaan limbah pembuangan. Apalagi lorong Kadewatan ini sudah jadi sampel pemerintah pusat terkait dengan lingkungan. Sehingga warga tidak membuang sampah rumah tangga di kali (sungai) seenaknya,” tegasnya.

Baca Juga  Ketua MUI ajak umat Islam maafkan Sukmawati & berhenti buat laporan ke polisi

Disesalkannya, pihaknya selaku aparat pemerintahan dalam tingkat kelurahan tidak pernah diberitahukan dan dijelaskan tentang proses pembangunan maupun pembuangan limbah bangunan yang baru dibangun 4 lantai dan 1 basemen itu.

”Saya tidak tahu karena belum pernah didatangi pemilik bangunan,” singkatnya.

Salah satu pemilik Toko Galaxi komputer yang engan namanya diungkapkan, saat dikonfirmasi wartawan secara terpisah, membenarkan bangunan yang sementara dibangun di kawasan Kadewatan itu memang milik pihaknya dan akan dioperasikan sebagai Guest House.

Bahkan, urusan perijinan dimaksud sudah rampung setelah diproses selama 1 tahun pada Dinas PUPR Kota Ambon.

Dimana, dalam pengurusan semua ijin-ijin termasuk yang berkaitan dengan lingkungan pihaknya berhubungan langsung dengan Kadis PUPR Pemkot.

Baca Juga  Pemda Halbar Membayar Hak Pemdes dan Salurkan BLT-DD Warga Enam Desa

Tentang sistem pembuangan limbah sendiri, jelasnya, sudah tidak ada masalah lagi.

”Kalau IMB sudah khan berarti ijin-ijin (termasuk lingkungan-red) itu semua sudah. Beta urus ijin-ijin ini satu tahun sebelum bangun,” tegasnya.

Tentang pengurusan ijin-ijin dimaksud, terangnya, pihaknya juga mengurusnya kepada salah satu pejabat pada instansi dimaksud yang akrab disapa Pak Inyo.

Namun saat ditanya soal sistem pembuangan dan limbah dari gedung yang mulai dibangun bulan September 2018 itu, dia mengaku sudah ada saluran yang disiapkan.

”Satu di depan gedung, satunya lagi di belakang. Tapi nanti kita akan sosialisasi lagi dengan Ketua RT-nya. Intinya dong mau pembuangan seperti apa kita ikut saja,” pungkasnya. (tim)