Dalam kunjungan ini, rombongan bertemu dan berdiskusi dengan Lurah Tomalou, Janhar Rabo dan beberapa pengurus masjid. Pendeta Donny Toisuta menyampaikan pilihan GPM mendatangi Tomalou karena kelurahan ini telah ditetapkan sebagai Kampung Nelayan Maju oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan.
“Kami ingin belajar dari cerita sukses di sini karena beberapa jemaat seperti di Batang Dua juga punya tradisi nelayan. Kami juga ingin memahami kekuatan budaya lokal yang bikin Tomalou tetap bertahan dengan tradisi dan kearifan warisan para tetua”, kata Donny.
Menurut Lurah Tomalou, masyarakatnya memiliki solidaritas yang tinggi dan memegang teguh tradisi budaya yang telah ada turun temurun dari para leluhur. Para nelayan Di Tomalou memiliki tradisi Foladomo, Cou dan Matila.
Asghar Saleh dalam Tulisannya tentang Cou menjelaskan bahwa “Foladomo – Kearifan local yang terus dipelihara hingga kini – memiliki simbiosis tak putus antara mereka yang ahli membuat perahu, tetua yang punya mantera, pemuka agama yang memohon petunjuk dan perlindungan Tuhan dan orang ramai yang bekerja sama mengangkat perahu.
Cou adalah budaya gotong royong (sorong bahu) seperti untuk membangun masjid dan pembelian Exavator seharga Rp. 1,6 Milyar.










