Pada saat menjelang kiamat Allah SWT mendatangkan angin yang lembut untuk mencabut roh orang-orang beriman. Setelah itu, tak ada lagi orang yang menyebut “Allah … Allah.” Mereka yang tinggal adalah manusia durjana. Kepada merekalah kiamat itu terjadi.
Dalam kitab Asyraathus Saa’ah karya Dr Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil disebutkan tentang sifat angin ini. Ia adalah angin yang lebih lembut daripada sutera. “Hal itu merupakan kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada zaman yang penuh dengan fitnah dan kejelekan,” tutur Dr Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil.
Dijelaskan dalam hadis an-Nawwas bin Sam’an yang panjang tentang kisah Dajjal, turunnya Nabi Isa as, dan keluarnya Yajuj dan Majuj:
إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقِبْضُ رُوْحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ؛ يَتَهَارَجُوْنَ فِيْهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُوْمُ السَّاعَةُ.
“Tiba-tiba saja Allah mengutus angin yang lembut, sehingga (angin tersebut) mengambil (mewafatkan) mereka dari bawah ketiak-ketiak mereka, lalu diambillah setiap roh mukmin dan muslim, dan yang tersisa hanyalah manusia yang paling durjana. Mereka menggauli wanita-wanita mereka secara terang-terangan bagaikan keledai, maka kepada merekalah kiamat akan terjadi.”









