Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Beberapa hari lalu, ada seorang jurnalis bertanya kepada saya soal para penduung Simbah Kwalon menangis sedih karena melihat dia diserang saat debat.
Simbah Kwalon memang menampilkan mimik “nelangsa” saat Anies memberi nilai kinerjanya 11 dari 100. Penilaian Anies itu memang keras. Namun debat tetap adalah debat. Apalagi debat dilakukan untuk menjadi orang paling berkuasa di negeri ini.
Debat membutuhkan lawan argumen. Bukan wajah memelas. Apalagi air mata.
Saya balik bertanya kepada jurnalis tersebut. Anda pikir itulah yang terjadi? Pendukung Simbah Kwalon menangis sedih karena junjungannya didebat hingga kehabisan kata-kata?
Banyak orang tidak sadar bahwa sangat mungkin sebuah simpati muncul karena kasihan. Ketika Anda berhasil diharu biru maka disanalah terbit rasa kasihan. Dari kasihan muncul simpati. Dan dari simpati kadang muncul rasa cinta.
Para politisi dan konsultan-konsultan poltiik tahu persis ini. Air mata menerbitkan kasihan, dan kasihan pada gilirannya menerbitkan simpati (kepada yang dipandang sebagai korban), dan antipati kepada orang yang dianggap menyerang korban.









