Peringati Hari Anti Tambang 2026, Aktivis Soroti Dampak Ekologis Industri Nikel di Teluk Weda

oleh -8 views
Aktivis Save Sagea Rifya Rusdi, mengatakan ekspansi industri ekstraktif yang terus meluas di Halmahera Tengah telah memicu pembukaan hutan dalam skala besar, perataan bentang alam, serta tekanan serius terhadap ekosistem.

Porostimur.com, Weda – Peringatan Hari Anti Tambang (HATAM) 2026 di Teluk Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, diwarnai aksi simbolis yang digelar aktivis Save Sagea bersama warga Lelilef Woebulen, Kamis (28/5/2026).

Aksi tersebut berlangsung di sejumlah titik strategis, mulai dari Puncak Kawinet di Desa Sagea, pesisir Desa Lelilef dan Gemaf, Jembatan Sungai Ake Kobe, Bukit Dua Jari Lokulamo, hingga ruas jalan utama di sekitar kawasan industri nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Tekindo.

Massa juga melakukan aksi di sekitar kawasan Tsingshan Tower di Weda Bay sebagai simbol dominasi industri ekstraktif di wilayah tersebut.

Soroti Kerusakan Ekologis

Aktivis Save Sagea Rifya Rusdi, mengatakan ekspansi industri ekstraktif yang terus meluas di Halmahera Tengah telah memicu pembukaan hutan dalam skala besar, perataan bentang alam, serta tekanan serius terhadap ekosistem.

“Karst Sagea, Gua Boki Moruru, dan Telaga Yonelo yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kini berada di ambang kehancuran akibat ekspansi tambang nikel dan batu gamping,” ujarnya.

Baca Juga  Apa Benar Laki-laki Tidak Boleh Duduk di Tempat Bekas Wanita?

Ia menjelaskan, Teluk Weda dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat industri nikel terbesar di Indonesia bahkan dunia. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya aktivitas pembukaan lahan, pembangunan smelter, PLTU captive, hingga infrastruktur penunjang industri.

No More Posts Available.

No more pages to load.