Subaim, Lumbung yang Runtuh Saat Sawah Mengering oleh Tambang

oleh -642 views

“Dulu padi tumbuh subur di sini. Sekarang, air pun kami beli.”

Porostimur.com, Subaim — Di tengah daratan Halmahera yang rimbun dan kaya, berdirilah sebuah wilayah bernama Subaim. Dulu, orang-orang menyebutnya “lumbung beras Maluku Utara.” Hamparan sawah terbentang sejauh mata memandang. Sungai mengalir jernih, dan suara mesin penggiling padi tak pernah berhenti dari pagi hingga petang.

Namun itu dulu. Kini, sawah-sawah di Subaim lebih sering ditumbuhi ilalang. Irigasi yang dulu mengairi ratusan hektare lahan kini tinggal parit berlumpur. Airnya menghitam, mengering, dan mengandung endapan logam.

Sebagian petani beralih menjadi buruh serabutan. Yang lainnya, pergi merantau. Subaim yang dulu menghidupi Maluku Utara, kini terengah-engah menghidupi dirinya sendiri.

Baca Juga  Unpatti Umumkan Hasil SNBT 2026, 2.109 Peserta Dinyatakan Lulus

Hancur Perlahan oleh Tambang

Kehancuran ini tak terjadi dalam semalam. Bertahun-tahun Subaim menjadi sasaran eksploitasi tambang nikel. Sejumlah perusahaan tambang besar menguasai kawasan ini. Antara lain: PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP); PT Aneka Tambang (Antam); PT Weda Bay Nickel; PT Tekindo Energi; PT First Pacific Mining; PT Karya Mandiri Sejahtera; dan beberapa subkontraktor lokal lainnya

Eksplorasi tambang ini membuka hutan-hutan primer Subaim, menggusur lahan pertanian, dan mengubah aliran sungai. Lumpur tambang masuk ke saluran irigasi, menyebabkan endapan di dasar-dasar kanal, merusak bendungan, dan mencemari air yang dulu menjadi nyawa bagi petani Subaim.

No More Posts Available.

No more pages to load.