Natal di Mulut Trump: Ucapan yang Menjadi Olok-olok

oleh -442 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Dalam demokrasi Amerika Serikat, pertentangan antara Partai Republik dan Partai Demokrat adalah sesuatu yang niscaya. Ia bagian dari dinamika politik yang sah, bahkan sehat, selama dijaga dalam koridor etika dan kesantunan berbangsa.

Namun pertentangan itu berubah menjadi problem etis ketika Presiden Donald Trump, figur sentral Partai Republik, memilih menyulutnya dengan bahasa penghinaan.

Dalam ucapan Natalnya, Trump secara terbuka menunjuk Partai Demokrat sebagai “Radical Left Scum”—sampah kiri radikal—sembari tetap melafalkan ucapan selamat hari natal. Di titik itulah perbedaan politik tak lagi tampil sebagai adu gagasan, melainkan sebagai olok-olok institusional dari seorang presiden.

Ucapan Natal bagi umat Kristiani lebih sebagai bahasa iman, bukan bahasa partai. Ia lahir dari tradisi Kristiani, konon menjunjung kasih, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama—termasuk terhadap mereka yang berbeda pilihan politik.

Baca Juga  Warga Korban Longsor BTN Gadihu Indah Laporkan Developer ke Polda Maluku

Namun di tangan Trump, perayaan agama justru dijadikan kendaraan serangan kepartaian. Ketika sebuah partai politik disebut sebagai “sampah” dalam momen keagamaan, yang dipertontonkan bukan hanya keberpihakan, melainkan penundukan nilai iman di bawah loyalitas politik. Agama (Kristiani) seolah diposisikan lebih rendah daripada kepentingan partai.

No More Posts Available.

No more pages to load.